Sabtu, 05 Desember 2015

Dibenci Lalu Dicinta

Dibenci Lalu Dicinta

Filed in Sayuran by  on October 1, 2011

Semula dianggap gulma, kini kirinyu menjadi biopestisidaHama plutella yang menyerang kubis dapat diatasi dengan penyemprotan ekstrak kirinyuItulah kirinyu Chromolaena odorata gulma utama di kebun karet, teh, dan kelapa. Pemerintah Nigeria, Amerika Serikat, Thailand, Malaysia, Indonesia, dan Australia memusuhinya sejak 1960 karena penyebarannya invasif alias cepat dan menekan tanaman lain. Bijinya yang ringan dan dilapisi bulu dengan mudah menempel pada hewan ternak, manusia, bahkan kendaraan lalu menyebar dengan cepat.
Selama tujuh tahun sejak 1994 Australia menggelontorkan sekitar AUD$1,1-juta atau Rp7,2-miliar untuk mengendalikan kirinyu di Queensland. Tanaman anggota famili Asteraceae itu mengancam peternakan sapi dan domba karena menekan pertumbuhan rumput pakan. Namun, belakangan kirinyu malah menjadi tanaman multiguna sebagai bioinsektisida, fitohormon, pupuk organik, dan herbisida.
Tiga manfaat utama kirinyu itu terkuak saat tim peneliti hama dan penyakit dari Balai Penelitian Pertanian Lahan Rawa (Balittra), Kalimantan Selatan, secara tidak sengaja memberikan daun chromolaena sebagai pakan ulat grayak Spodoptera litura 9 tahun silam. Ketika itu Balittra mengembangkan ulat sebagai sumber hama untuk beragam penelitian serangga pengganggu tanaman. Sebelumnya pakan berupa daun kedelai, sawi, kangkung, dan ubi kayu.
Membunuh 90%
Pada saat beragam pakan itu habis, seorang teknisi tak sengaja memberi pakan daun kirinyu sebagai pengganti. Sebuah “kecelakaan” yang justru berujung pada keberuntungan pun terjadi. Sebanyak 1.500 ulat yang mengonsumsi daun kirinyu malah mati dalam 24-36 jam. Para peneliti Balittra pun menyimpulkan daun babanjaran-nama lain kirinyu di Jawa Barat-berperan sebagai bioinsektisida. Para peneliti pun melakukan pengujian untuk memperkuat fakta itu.
Benar saja, penelitian lebih lanjut membuktikan babanjaran ampuh membunuh ulat jengkal, ulat grayak, dan plutella. Ulat jengkal merusak mentimun, melon, dan sengon hingga 80%. Begitu juga ulat grayak si pemakan segala mampu merusak hingga 100%. Sementara plutella merupakan hama ulat kubis yang paling ganas. Daya bunuh kirinyu mencapai 70-90%. Ia juga dapat menekan ulat bulu yang menyerang berbagai daerah belakangan ini.
Belum ada riset yang mengungkap senyawa aktif spesifik yang berperan biopestisida. Kirinyu mengandung PAS alias pryrrolizidine alkaloids yang membuatnya berbau menusuk, pahit, dan beracun. PAS bersifat racun perut atau racun lambung. Semprotan ekstrak kirinyu pada tanaman masuk ke organ pencernaan hama saat ulat memakan daun.
Dinding usus ulat menyerap ekstrak, kemudian meracuni pusat saraf, organ respirasi, dan sel lambung. Kesimpulan itu berdasar pengamatan penulis ketika ekstrak biopestisida disemprotkan ke tubuh ulat, mereka tidak mati. Ulat hanya mati bila memakan organ tanaman yang disemprotkan ekstrak kirinyu.
Contoh pestisida kimia yang bersifat racun perut ialah golongan organoklor seperti dicofan 460 EC dan keltane 250 EC. Bedanya kerja racun biopestisida lebih lambat. Ulat mati 2-3 hari setelah memakan daun yang disemprotkan ekstrak kirinyu. Senyawa PAS pun lebih kompleks sehingga peluang ulat menjadi kebal kecil. Residunya ramah lingkungan karena mudah terurai di alam.
Fitohormon
Serangkaian uji kirinyu sebagai biopestisida juga menguak fakta lain yang tidak terduga. Tanaman sawi yang disemprot ekstrak kirinyu ternyata sosoknya berbeda. Ia jauh lebih subur, kekar, dan vigor. Secara umum pertumbuhan 70–80% lebih baik. Diduga kirinyu mengandung fitohormon seperti giberelin, auksin, atau sitokinin yang mendukung pertumbuhan tanaman.
Namun, belum dapat disimpulkan fitohormon itu diproduksi kirinyu langsung atau oleh bakteri yang hidup di permukaan daun. Maklum, agen penghasil hormon tak hanya tanaman, tapi juga mikroorganisme endofitik (endo: dalam dan fitik: tanaman, red). Banyak riset belakangan melaporkan beragam bakteri-seperti kelompok mycobacterium-yang hidup di permukaan daun tanaman memproduksi beragam hormon yang menguntungkan tanaman inang.
Manfaat kirinyu sebagai biopestisida dan penghasil fitohormon itu kian menguatkan pendapat pakar yang menyebut kirinyu justru bermanfaat bagi manusia. Sekadar contoh di luar bidang pertanian, misalnya. Di Amerika Serikat ekstrak kirinyu menjadi obat memulihkan luka bedah dan operasi plastik. Itu karena ekstrak kirinyu menghambat konstraksi kolagen pada kulit.
Pupuk organik
Di bidang pertanian Prof Nurhajati Hakim pada 2003 mempublikasikan kompos kirinyu mampu mengurangi setengah dosis pupuk anorganik tanpa mengurangi hasil cabai. Pangkasan kirinyu-sekitar 70 cm-dari pucuk mengandung 2,7% nitrogen, 0,37% fosfor, dan 3,22% kalium. Jumlah hara nitrogen itu jauh lebih tinggi daripada kotoran segar babi, ayam, dan sapi yang jumlahnya berturut-turut 0,63%; 1,66%; dan 0,43%. Pun demikian dengan kalium.
Menurut Nurhajati di lokasi penelitiannya di Rambatan, Kabupaten Tanahdatar, Sumatera Barat, pupuk kandang sulit diperoleh sehingga pekebun yang malas memberi pupuk organik. Banyak wilayah di tanahair sulit memperoleh pupuk kandang karena jauh dari peternakan. Kirinyu menjadi jawaban karena tumbuh tersebar dari dataran rendah rawa, dataran rendah kering, hingga dataran tinggi. Pertumbuhannya pun sangat cepat. Dalam 1 ha dihasilkan biomassa segar sebanyak 20 ton per ha pascapemangkasan 3 bulan. Bila benar semuanya terkuak, ia tak lagi dibenci, bahkan mungkin dicinta di 4 benua. (Ir Muhammad Thamrin, Ir Syaiful Asikin, dan Destika Cahyana SP, peneliti di Balai Penelitian Pertanian Lahan Rawa (Balittra), Banjarbaru, Kalimantan Selatan)

Tidak ada komentar :

Posting Komentar